Tips Desain Logo dengan Memahami Psikologi Warna

Logo merupakan elemen penting yang digunakan sebagai branding. Dengan adanya logo, orang-orang akan bisa mengenali identitas suatu perusahaan, komunitas, produk, atau bahkan sebagai personal branding.

Dalam membuat desain logo, para desainer akan selalu memperhitungkan berbagai aspek yang berhubungan dengan citra perusahaan ataupun merek yang ingin dibangun.

Misalnya, style logo perusahaan yang bergerak di bidang makanan (misalnya restoran cepat saji) tentu akan berbeda dengan perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan (misalnya rumah sakit).

Advertisement

Pemilihan unsur warna tentunya akan sangat berpengaruh di sini, karena ada kaitannya dengan psikologi manusia.

1. Memahami Psikologi Warna Pada Logo

Jika kita perhatikan, perusahaan makanan cepat saji rata-rata menggunakan warna merah dan kuning pada logo mereka.

Penggunaan kombinasi warna tersebut bukanlah tanpa alasan, karena sebenarnya sangat erat kaitannya dengan psikologi warna.

Pemakaian warna merah dan kuning selain menarik perhatian, disebutkan juga dalam penelitian bahwa kedua warna ini ternyata juga bisa menggugah rasa lapar dan meningkatkan selera makan.

Itulah mengapa warna merah dan kuning atau orange sangat identik dengan logo perusahaan yang bergerak di bidang kuliner ataupun makanan cepat saji.

Nah, hal ini berbanding terbalik bila kita ambil contoh pada perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, seperti misalnya rumah sakit.

contoh logo rumah sakit terkenal di Indonesia

Jika kita sadari, rata-rata rumah sakit menggunakan aksen warna hijau atau biru pada logo mereka. Warna hijau dan biru identik dengan nuansa alam yang bisa menghadirkan rasa ketenangan bagi para pasien.

pakaian ruang operasi identik dengan warna hijau dan biru

Aksen warna hijau dan biru juga digunakan pada ruang operasi. Di mana aktivitas tersebut sangat identik dengan darah.

Oleh karena itu, dominasi penggunaan warna hijau ataupun biru pada pakaian dokter dan petugas medis diklaim dapat membawa rasa tenang, menurunkan syaraf-syaraf yang tegang, serta menghindari emosi berlebihan.

Selain rumah sakit, aksen warna biru dan hijau juga digunakan oleh banyak raksasa perusahaan teknologi. Misalnya Facebook, Twitter, Google, Intel, Samsung, HP, LinkedIn, WhatsApp, PayPal, LINE, Telegram dan lain-lain.

Selain dianggap membawa rasa tenang, warna biru juga dianggap sebagai simbol kepercayaan dan inovasi.

Warna hijau dan biru memang sangat populer digunakan oleh banyak raksasa perusahaan teknologi ternama.

Namun dua warna ini tidak selalu menjadi acuan baku yang terus diikuti.

Banyak juga perusahaan yang menggunakan kombinasi warna yang beragam pada logo mereka (warna-warni).

Misalnya seperti Google dan Microsoft.

Penggunaan warna yang colorful ini mengindikasikan bahwa perusahaan mereka mempunyai banyak produk yang beragam.

Seperti yang kita tahu, Google memiliki beragam produk digital yang mungkin di antaranya sering kita gunakan. Seperti Android, Gmail, YouTube, Drive, Chrome, AdSense, Maps, Play Store, dan masih banyak lagi.

Begitu juga dengan Microsoft yang juga memiliki beragam produk digital yang populer.

Itulah salah satu alasan mereka menggunakan banyak kombinasi warna pada logo perusahaan mereka.

Logo dengan kombinasi warna yang meriah ini juga membawa kesan ceria, penuh semangat dan juga menyenangkan.

Selain warna cerah dan colorful, beberapa perusahaan teknologi ternama juga ada yang menggunakan warna simple dan monokromatik, seperti hitam dan juga abu-abu.

Dua warna ini identik dengan kesan elegan dan mewah.

Salah satu perusahaan yang menggunakan aksen warna tersebut pada logonya adalah Apple.

Produk-produk Apple seperti iPhone, iPad, Mac, Apple Watch cukup berhasil membawa imej sebagai produk teknologi yang “mewah”.

2. Logo Harus Tahan Lama

Logo yang baik, seharusnya bisa bertahan lama.

Maksud dari tahan lama adalah logo tersebut akan terus relevan dengan perkembangan zaman.

Misalnya kita buat logo tersebut di tahun 2022 ini, lalu bagaimana dalam kurun waktu 10 atau 20 tahun ke depan?

Akankah logo tersebut masih terlihat modern dengan perkembangan zaman yang ada?

Akankah tidak terlihat ketinggalan zaman dan norak di masa depan?

Advertisement

Kita tidak akan pernah tahu, namun sebenarnya kita bisa mengantisipasinya sejak dari awal.

Coba perhatikan logo Apple sejak pertama kali dibuat hingga sekarang. Dari tahun ke tahun ternyata Apple sudah berkali-kali mengganti logonya.

Logo Apple yang pertama terlihat sangat kompleks dan penuh dengan detail gambar. Pada masanya, mungkin logo tersebut terlihat sangat keren di zamannya, namun menjadi berbeda ketika kita melihatnya di zaman sekarang.

Sekarang coba bayangkan bila Apple masih tetap mempertahankan logonya yang di tahun 1976 hingga ke era sekarang?

Logo pertama Apple

Pastinya logo seperti ini akan terkesan kaku, tua, dan ketinggalan zaman bukan? Belum lagi karena Apple adalah perusahaan teknologi di bidang komputer dan digital yang tentunya harus membawa kesan canggih dan modern.

Itulah kenapa logo Apple yang sekarang dibuat menjadi sangat sederhana dan minimalis. Ternyata, logo tersebut akan jadi lebih mudah untuk dicetak dan diaplikasikan ke berbagai media.

Dari sejarah panjang perjalanan Apple kita bisa mengambil pelajaran. Bahwa logo yang baik seharusnya bisa terus relevan dengan perkembangan zaman yang ada.

Bayangkan bila perusahaan sering bergonta-ganti logo dari tahun ke tahun dalam waktu yang intens, mungkin butuh waktu lama bagi pelanggan untuk mengenalinya lagi. Apalagi jika logo yang baru sangat jauh berbeda dengan ciri khas logo yang lama.

Beda halnya dengan perusahaan Apple yang memang sudah sangat terkenal, meskipun sudah berkali-kali berganti logo namun orang-orang akan bisa mengenalinya lagi dengan cepat.

Namun bagaimana bila suatu perusahaan yang baru merintis dan belum dikenal banyak orang, lalu dengan seringnya bergonta-ganti logo?

Maka itu sama saja meresetnya dari 0 lagi, seperti bayi yang baru dilahirkan. Akan cukup merugikan dari sisi marketing. Selain itu juga perusahaan bakal butuh biaya lagi untuk membayar desainer profesional hanya untuk rebranding.

Seperti yang kita tahu, biaya pembuatan logo untuk perusahaan ternama yang sudah terkenal terbilang tinggi.

3. Logo Harus Dinamis dan Fleksibel

Logo yang sudah dibuat tentunya tidak hanya ditampilkan untuk dunia digital saja. Melainkan juga akan diaplikasikan ke berbagai media cetak di dunia nyata.

Seorang desainer juga harus memikirkan bagaimana logo tersebut ketika ditampilkan pada sebuah website, aplikasi digital, atau bahkan di media cetak.

Logo harus dinamis dan fleksibel.

Artinya, ketika sudah diaplikasikan ke berbagai media maka logo tersebut akan bisa menyesuaikan.

Satu logo, namun bisa diadaptasi ke berbagai warna.

Coba perhatikan logo Samsung di atas. Satu logo namun bisa tetap konsisten ketika diaplikasikan ke beragam background yang berbeda.

Entah itu menggunakan warna biru, hitam ataupun putih, logo Samsung masih tetap mudah kita kenali.

Selain itu, logo yang baik juga harus bisa fleksibel ketika dicetak ke berbagai produk fisik/nyata. Misalnya untuk merchandise, seperti misalnya kaos, mug, tas, packaging, jaket, dan lain sebagainya.

Dengan begitu, logo tersebut menjadi lebih efektif ketika dibutuhkan untuk tujuan marketing guna mengenalkan merk yang kita punya ke khalayak umum.

4. Desain Logo dengan Software Berbasis Vector

perbedaan vector dan raster

Untuk desain logo sangat disarankan menggunakan aplikasi desain grafis berbasis vector, seperti Adobe Illustrator, Affinity Designer atau software sejenis lainnya.

Kelebihan dari software ini adalah bisa menghasilkan gambar dengan jenis vector seperti misalnya SVG (Scalable Vector Graphic).

Gambar vector tidak seperti gambar jpeg, png, gif, atau raster lainnya yang ketika di-zoom untuk diperbesar akan terlihat pecah dan blur.

Gambar vector tidak seperti itu, sehingga walaupun kita zoom atau perbesar resolusinya maka gambar vector akan tetap terjaga kualitasnya.

Untuk itu, jika ingin desain logo, sangat disarankan untuk menggunakan software berbasis vector seperti Adobe Illustrator, Affinity Designer ataupun sejenisnya, bukan raster seperti Adobe Photoshop. Karena Photoshop umumnya lebih cocok digunakan untuk editing foto.

Sehingga ketika di masa mendatang kita ingin mencetak logo tersebut ke media yang berukuran besar, misalnya papan iklan billboard, maka kita tidak perlu mendesain ulang dan membuatnya dari awal lagi. Kita hanya tinggal melakukan sedikit penyesuaian saja.

Kesimpulan

Nah, itulah beberapa tips sederhana tentang cara mendesain logo dengan memahami psikologi warna.

Logo yang baik tentunya harus bisa bertahan lama dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Selain itu logo tersebut juga harus dinamis dan fleksibel. Tidak hanya bagus ditampilkan dalam media digital, tetapi juga harus terlihat jelas ketika diaplikasikan ke berbagai media cetak dalam bentuk fisik yang nyata.

Baca juga:

software desain logo terbaik

Baca juga

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept